KUBU RAYA, SP - Di tepian Jalan Trans Kalimantan, deru truk pengangkut sawit nyaris tak pernah berhenti dan datang silih berganti.
Jalan itu, menghubungkan Pontianak dengan sejumlah wilayah pedalaman Kalimantan hingga ke provinsi lain. Setiap hari, jalur tersebut menjadi urat nadi pergerakan ekonomi warga.
Pada jalan nasional tersebut, di antara deretan ruko sederhana di Dusun Parit Masigi I, Desa Kuala Ambawang, Kecamatan Sungai Ambawang, berdiri sebuah konter kecil bernama Raisa Cell.
Dari luar, tampilannya tak berbeda dengan konter pada umumnya. Etalasenya dipenuhi aksesoris telepon genggam, kartu perdana, dan perlengkapan elektronik kecil.
Namun bagi masyarakat sekitar, Raisa Cell kini memiliki arti lebih besar dari sekadar tempat membeli pulsa.
Di tempat itu, warga bisa menarik uang, mentransfer dana, membayar listrik, membeli token, hingga menyetor hasil dagangan tanpa harus pergi jauh ke kota.
Adalah kehadiran layanan Agen BRILink di konter tersebut perlahan mengubah cara masyarakat desa mengakses layanan keuangan.
Sebelum layanan itu hadir, urusan perbankan menjadi persoalan tersendiri bagi warga Sungai Ambawang Kuala.
Untuk mengambil bantuan, mengirim uang, atau melakukan transaksi lainnya, mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju pusat layanan perbankan di Pontianak atau kawasan yang lebih ramai.
Biaya transportasi pun sering menjadi beban tambahan bagi warga yang menggantungkan hidup dari hasil kebun dan perdagangan kecil.
Raisa, pemilik konter, memahami persoalan itu karena ia mengalaminya bersama masyarakat sekitar.
“Awalnya saya hanya jual pulsa dan aksesoris handphone. Tapi lama-lama banyak warga bertanya apakah bisa tarik uang atau transfer,” ujarnya saat ditemui di tokonya.
Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah muncul gagasan untuk menghadirkan layanan keuangan di desanya. Raisa kemudian memutuskan bergabung menjadi Agen BRILink.
Baginya, keputusan itu bukan semata soal menambah usaha, melainkan juga membantu warga yang selama ini kesulitan mengakses layanan perbankan.
“Kasihan kalau harus keluar ongkos besar hanya untuk ambil uang atau kirim dana,” katanya.
Setelah resmi menjadi Agen BRILink, suasana Raisa Cell berubah semakin ramai. Pagi hari, petani sawit datang menarik hasil penjualan kebun.
Menjelang siang, ibu rumah tangga membayar listrik dan membeli token. Sore harinya, pedagang pasar menyetor uang hasil dagangan.
Tidak hanya warga sekitar, Raisa Cell juga kerap didatangi sopir taksi, sopir truk pengangkut sawit, pengangkut sayur, hingga warga dari desa lain yang singgah di Dusun Parit Masigi.
Mereka biasanya memanfaatkan layanan transfer, tarik tunai, hingga pembayaran digital sebelum melanjutkan perjalanan di jalur Trans Kalimantan.
Aktivitas berlangsung hampir sepanjang hari mengikuti ritme kehidupan masyarakat desa dan lalu lintas kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi.
Raisa melayani setiap pelanggan dengan sabar, termasuk warga lanjut usia yang belum terbiasa menggunakan layanan digital. Sikap ramah itu membuat kepercayaan masyarakat tumbuh.
“Yang paling saya senang ketika warga bilang sekarang semuanya jadi lebih mudah,” ucapnya.
Salah seorang pelanggan tetap Raisa Cell adalah Mak Isah, perempuan paruh baya yang sehari-hari berjualan sayur kecil-kecilan.
Dulu, setiap kali harus mengambil bantuan atau mengirim uang kepada anaknya di luar daerah, ia selalu kesulitan mencari kendaraan menuju kota.
“Kalau tidak ada yang antar, ya susah,” tuturnya.
Kini, semua kebutuhan itu bisa diselesaikan dekat dari rumah. “Sekarang tinggal datang ke Raisa Cell. Dekat dan cepat,” katanya.
Menurut Mak Isah, pelayanan yang sabar menjadi alasan warga merasa nyaman bertransaksi di sana. “Kalau saya kurang paham, Raisa ngajarin pelan-pelan,” ujarnya.
Keberadaan Raisa Cell juga sejalan dengan perkembangan Desa Kuala Ambawang yang terus tumbuh sebagai kawasan perdagangan dan jasa di jalur strategis Trans Kalimantan.
Arus kendaraan dan aktivitas ekonomi di kawasan itu terus meningkat. Perkebunan kelapa sawit masih menjadi tulang punggung ekonomi warga, disusul perdagangan dan jasa yang berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Di tengah perkembangan tersebut, kehadiran layanan keuangan yang mudah dijangkau menjadi kebutuhan penting.
Bagi warga sekitar, keberadaan layanan tersebut membuat urusan transaksi menjadi lebih mudah tanpa harus pergi jauh ke kota.”
Dari sebuah ruko kecil di pinggir jalan, layanan keuangan kini terasa lebih dekat dan lebih manusiawi bagi masyarakat desa.
Warga seperti Mak Isah, keberadaan Agen BRILink bukan sekadar soal transaksi uang.
Ia menghadirkan kemudahan, penghematan biaya, sekaligus rasa tenang karena layanan yang dibutuhkan kini tersedia tepat di dekat rumah. (aep mulyanto)